Jan
06
Rabiah adalah salah satu tokoh sufi wanita pada zamannya,beliau dilahirkan di kota Basrah tahun 95 hijriyah,dan putri ke 4 dari seorang lelaki bernama,Ismail Adawiyah.Beliau hidup dalam kemiskinan dan lingkungan yang serba kurang bahkan ketika Rabiah lahir lampu untuk menerangi saat kelahirannyapun tidak ada. Rabiah yang lahir dalam keadaan miskin tapi kaya akan iman dan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya seorang yang bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan. Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlomba-lomba mencari kekayaan. Sebab itu kejahatan dan maksiat tersebar luas.
agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali. Namun begitu, Allah telah memelihara sebahagian kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat. Ayahanda Rabi’ah merupakan hamba yang sangat taat dan taqwa,hidup jauh dari kemewahan dunia dan tidak pernah berhenti bersyukur kepada Allah. Beliau mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berhasil menghafal kandungan al-Quran.

Sejak kecil Rabi’ah sudah berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam. Memasuki masa kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit,dan semakin sulit setelah beliau ditinggal ayah dan ibunya,dipanggil Allah. Dan ujian2 lain yang menguji keteguhan imannya,sampai dia sanggup,untuk menjadi
hamba sahaya dari seorang kaya raya pada zaman itu,dan ini terjadi karena penderitaan kemiskinan yang dideritanya.Cobaan demi cobaan dilalui Rabiah dalam menjalani hidupnya yang sarat akan penderitaan dan karena beliau pinter memainkan alat musik,maka majikannya semakin menjadikannya sumber mencari uang dengan keahlian yang dimiliki Rabiah.
Dalam keadaan hidup yang keras dan serba terkekang sebagai hamba sahaya,membuat Rabiah mendekatkan diri kepada Allah,dan selalu menyempatkan waktunya yang luang untuk terus bermohon kepada Allah,baik pagi maupun petang,malam dan siang. Amalannya tidak hanya sebatas berdoa saja tapi sepanjang hari dan sepanjang ada waktu dia senantiasa selalu berzikir dan berdoa,dan selalu melaksanakan amalan2 sunat lainnya dan saat melakukan sholat sepanjangn sholat airmatanya selalu membasahi sajadahnya,air mata kerinduan kepada Allah sang Khaliq yang di rinduinya.Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam dunia maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan dasar keimanan yang kuat dan belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Saat2 taubat inilah yang mungkin dapat menyadarkan serta mendorong hati bagaimana merasai cara berkomunikasi yang baik antara seorang hamba rabiah dengan sang Khaliq Allah swt dan selayaknya seorang hamba bergantung harapan kepada belas ihsan Rabbnya.
Kecintaan Rabiah kepada Allah mengalahkan hidup dan kecintaannya kepada dunia dan isinya,hari2 nya habis untuk berkomunikasi dengan Allah betapa dia merasa dirinya adalah milik Allah hingga ada beberapa pemuda ingin melamarnya di tolaknya dengan halus.
Beliau selalu berbicara dengan Allah seolah2 dekat sekali dengan Allah dengan bahasa2 yang indah dah doa2 yang sangat menusuk hati dan kata pujian seperti layaknya kerinduan seseorang kepada kekasih hatinya.Salah satu kata2 Rabiah ketika ber munajat sambil air matanya mengalir.

Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”
Ya Tuhanku!
Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu
supaya tiada suatupun yang dapat
memalingkan aku daripada-Mu.”
Rabiah banyak menolak lamaran yang datang kepada nya
dengan inilah alasannya: “Perkawinan itu memang perlu bagi siapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.” Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata- mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keridhaan Allah. Rabi’ah telah mematikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata.
Selam 30 tahun selalu doa ini yang senantiasa di ulang2 ketiak dalam sholatnya “Ya Tuhanku!
Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu
supaya tiada suatupun yang dapat
memalingkan aku daripada-Mu.”
Antara syairnya yang masyhur berbunyi:
“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.”
Rabi’ah sangat luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulaikan pemahamannya tentang sufinya dengan menanamkan rasa takut dari murka Allah seperti yang pernah ungkapkannya dalam doa2nya
“Wahai Tuhanku!
Apakah Engkau akan membakar
dengan api hati yang mencintai-Mu
dan lisan yang menyebut- Mu dan
hamba yang takut kepada-Mu?”
Kecintaan Rabi’ah kepada Allah bukan karena pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata,tapi sudah menjadi kewajiban baginya
“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana mengharap syurgaMu maka jauhkan aku dari syurgaMu ! Tetapi jika aku menyembah- Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”
Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada- Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah yaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meridhanya, amin.
Untuk itu mari kita merenung adakah kita sadar akan sebuah hakikat yang ada di sebut dalam surat al Imran ayat 142” Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”

Bagaimana perasaan kita apabila orang yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada orang tesrbut? Tidakkah terpikir oleh kita untu merasakan dalam hati dan berdoa“Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu saja yang kekal. Selamatkanlah aku dari tipu daya yang mengasyikkan.”
Sesungguhnya hendaklah kecintaan kepada Allah benar2 dapat kita tanamkan kepada diri kita bukan hanya sekedar sholat dan puasa atau ibadah ritual lainnya tapi yakin kan diri semakin kita mengenal Allah dengan dekat maka semakin ingin kita bertemu dan akan ada kerinduan untuk bertemu sang Khaliq.

Des
12

1.Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan dalam mengolah kata-kata secara efektif baik bicara     ataupun menulis (jurnalis, penyair, pengacara)

Ciri-ciri :
- Dapat berargumentasi, meyakinkan orang lain, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata
- Gemar membaca dan dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas

2. Kecerdasan Matematis-Logis
Kecerdasan dalam hal angka dan logika (ilmuwan, akuntan, programmer)
Ciri-ciri :
- Mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi
- Berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis
- Pandangan hidupnya bersifat rasional

3. Kecerdasan Visual-Spasial
Kecerdasan yang mencakup berpikir dalam gambar, serta mampu untuk menyerap, mengubah dan menciptakan kembali berbagai macam aspek visual (arsitek, fotografer, designer, pilot, insinyur)
Ciri-ciri :
- Kepekaan tajam untuk detail visual, keseimbangan, warna, garis, bentuk dan ruang
- Mudah memperkirakan jarak dan ruang
- Membuat sketsa ide dengan jelas

4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
Kecerdasan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresiakan gagasan dan perasaan (atlet, pengrajin, montir, menjahit, merakit model)
Ciri-ciri :
- Menikmati kegiatan fisik (olahraga)
- Cekatan dan tidak bias tinggal diam
- Berminat dengan segala sesuatu

5. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk musik dan suara (konduktor, pencipta lagu, penyanyi dsb)
Ciri-ciri :
- Peka nada dan menyanyi lagu dengan tepat
- Dapat mengikuti irama
- Mendengar music dengan tingkat ketajaman lebih

6. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan untuk mengerti dan peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak dan temperamen orang lain (networker, negotiator, guru)
Ciri-ciri :
- Menghadapi orang lain dengan penuh perhatian, terbuka
- Menjalin kontak mata dengan baik
- Menunjukan empati pada orang lain
- Mendorong orang lain menyampaikan kisahnya

7. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan pengetahuan akan diri sendiri dan mampu bertidak secara adaptif berdasar pengenalan diri (konselor, teolog)
Ciri-ciri :
- Membedakan berbagai macam emosi
- Mudah mengakses perasaan sendiri
- Menggunakan pemahamannya untuk memperkaya dan membimbing hidupnya
- Mawas diri dan suka meditasi
- Lebih suka kerja sendiri

8. Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan memahami dan menikmati alam dan menggunakanya secara produktif dan mengembangkam pengetahuan akan alam
(petani, nelayan, pendaki, pemburu)
Ciri-ciri :
- Mencintai lingkungan
- Mampu mengenali sifat dan tingkah laku binatang
- Senang kegiatan di luar (alam)

9. Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia (filsuf, teolog,)
Ciri-ciri :
- Mempertanyakan hakekat segala sesuatu
- Mempertanyakan keberadaan peran diri sendiri di alam/ dunia

sumber: http://berita-apa-aja.blogspot.com/2010/…

Nop
21

“Rokok”, sensi banget klo dnger kata itu, apalagi klo ditambahin imbuhan jadi “merokok” “perokok”, apalagi lagi (apacoba) klo yg ngerokok itu ada di deket kita, beuhh…rasanya gak nyaman tingkat dewa dah,, asep nya itu lho,, gak nahan, bikin enek, sakit mata, bikin batuk dan ujung-ujungnya bikin emosi,hehehe.

Nah, makanya postingan ane kali ini  bakal ngebahas ttg korban perokok, kali aja perokok yg baca bisa sadar,hhe..

sbenernya tulisan ini diambil dari buku mata kuliah  Muthola’ah berbahasa arab, kebetulan ma dosen dijadiin Tugas disuruh nerjemahin,hhe..

Kasihanilah para Korban Perokok

Wahai para perokok! Kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan itu telah menimpamu, Kebiasaan ini menurut para dokter adalah buruk, karena ia tidak hanya menanam racun pada darahmu saja tetapi itu juga akan berdampak pada teman-teman dan tetanggamu, dan bahaya itu akan menjadi lebih besar jika posisimu adalah sebagai ayah karena kamu rela membiarkan zat racun yang terkandung di dalam rokok itu menyakiti buah hatimu.

Asap putih dan asap hitam yang mengepul dari cerutumu memungkinkan orang-orang disekitarmu terkena penyakit yang berbahaya, seperti : membuat mata menjadi perih, membuat rasa sesak didalam paru-paru dan radang ditenggorokan.

Saudaraku para perokok! kamulah yang memiliki andil (bertanggungjawab) atas munculnya penyakit-penyakit itu, karena kamu menyebarkan asap rokokmun pada yang lain dengan kuat, dan jika mereka yang ada disekelilingmu adalah anak kecil, itu karena mereka tidak mampu untuk beralasan, dan jika orang dewasa mereka akan diam karena menghormatimu. Dan ketahuilah, musibah ini akan menjadi lebih dahsyat dan lebih pahit ketika anak-anak dan saudara perempuanmu mulai mengikuti kebiasaanmu. Perbuatanmu ini hanya akan melahirkan generasi berpenyakit yang lemah dan kurus: lihat dirimu! Apakah kamu mampu berlari? Atau apakah mungkin kamu bisa bernafas dengan baik?

Sesungguhnya perokok itu membentangkan lapisan di dadanya seperti aspal yang bertumpuk-tumpuk pada dinding paru-paru sampai menyumbat urat syaraf yang menghubungkan darahmu dengan zat yang member kehidupan yaitu zat Oksigen.

Negara ini membutuhkan orang-orang yang kuat karena mereka mampu menjauhkan bahaya; maka ketika para putra bangsa itu lemah dan tidak mampu melakukan apapun sungguh musuh akan menikam mereka seperti pemburu menangkap burung yang mencoba terbang dengan kedua sayapnya akan tetapi dia tidak mampu untuk terbang.

Saudaraku…wahai orang yang telah menjadi pencandu rokok, kuatkanlah tekadmu untuk meninggalkan kebiasaan berbahaya ini dan meninggalkan semua kebiasaan buruk; karena negaramu membutuhkan hatimu dan menginginkan agar kamu menyingsingkan lengan, karena kedua itulah yang akan membangun, menciptakan, membuat gagasan, dan untuk menghancurkan keburukan dengan kekuatan dan keterampilan.

Category: Hanz, Penting Lho..  Tags:  Leave a Comment
Okt
17

Penyebab Kematian
Menurut penelitian terbaru oleh para ahli kedokteran, ternyata 100 % penyebab
kematian seseorang adalah jantung, yaitu JANTUNGNYA BERHENTI BERDENYUT, hehehe

Teman yg baik
If u need ADVICE, message me. If u need FRIEND, call me. If u need HELP, e-mail me.
If u need MONEY, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.Terima kasih

Borring
Borring man..
kanan hutan
kiri hutan
didepan.. orang utan..

Mengapa Kamu Tega
Sesungguhnya perasaan ini sudah lama kupendam. saat ini akan kukatakan isi hatiku.
mengapa..! mengapa..! mengapa..!
kau begitu tega melupakan utangmu padaku.

Inget kamu…
Jika hujan rintik-rintik.. aku kan selalu teringat kamu yg dirumah… soalnya……….
jemuran blom diangkat :)

Ingin Ku Katakan

Saat awan menjadi kelabu…. ku teringat padamu….
Saat hujan mulai turun aku merasa sedih dan kecewa…..
Dirimu yang pelupa.. membuat rasa cemas di hatiku…
Dan ku ingin segera mengatakan padamu… ANGKAT TU JEMURAN!!!

Ditangkep polisi
GAWAT!!! gw lg di ktr polisi. Mereka punya Bukti buat nahan gw. Gw dtahan krena
punya tampang yg imut bgt. Padahal itu bukan salah gw khan !!!

Pasangan pengantin cina..
pasangan pengantin cina memiliki anak pertama:
1.kulit hitam
2.rambut keriting
3.mata besar
mereka menamakannya: “SAM TING WONG”


Menggambar
Guru: “Coba kamu gambar segitiga sama kaki !”
Murid: “ga bisa, saya biasa gambar segitiga sama tangan !”


“Teror”
Sebenernya Indonesia itu, udah lama lho kena teror. Yaitu sejak adanya Teror Dadar,
Teror asin, Teror bebek, Teror puyuh…. dll

Tentang seseorang
Disetiap malam didepan rumahku selalu lewat seseorang yg membawa pisau ditangan
dan membawa daging segar dengan bercak-bercak darah ditangannya dan bara api yg
menyala panas. ia berjalan dalam kegelapan dan keheningan. dalam kegelapan ia
selalu berteriak dengan lantang. SATE… SATE…

Fitnah
Makin tua kamu hrs semakin Arif. Kalo ada yang bilang Jelek, sabaaaarr.
Kalo ada yang katain Begoo, cuekin aja.
Dibilang dungu, cool..aja. Tapi kalo ada yg bilang Cakep, tonjok aja, itu Fit’nah.

Category: humor  Tags: , ,  Leave a Comment
Jul
19

Assalamu’alaykum…

Bismillah..

Fii hadzihil munasabah, ane mw sdikit sharing atau lebih tepatnya curcol atau apalah,,,wateper…hehe.. yg penting skrang ane mw nulis.. :D

cekidot…—–>>>>>>

Pada tgl 17 Agustus 1991 (bukan 1945 ye!) alias 19 tahun 11 bulan yang lalu, lahirlah seorang makhluk kecil berwujud bayi perempuan yg  imut nan lucu (pede, hahah) dari rahim seorang Ibu muda (katanya waktu itu mama masih 23 thun gtu d..) yg luar biasa kuat dan hebat alias wonder women bagi ane  :)

Yup yup, syapakah ia??

Hayoo tebak sapa….

Apa??

Ane???

ya jelas bukanlah…

bukan salah lagi,heheheheh :D

laanjuuut…..

Nah, ane adlah anak pertama dr 4 bersaudara, tp bisa dibilang anak ke-2 dr 5 bersaudara cz dulu sebelum mama ngandung ane, ma2h smpet hamil jg tp keguguran.. T_T

Ya Allah…sayang bgt da ah, pdahal kan ane pngen bgt punya kk, kyaknya bkalan asik dan seru bin rame dh,,huhu.. :(

eiitss,,,dah ah, ga boleh mnyesali n ngeluh kyak gtu mun, insyaAllah ini psti yg terbaik dr Allah u/ semuanya.. :)

Oia, ane  lahir di Batavia alias Jakarta tepatnya di RS.Paru-paru alias RS.Pasar Rebo (padahal waktu itu hari sabtu, ane sih maunya ya di RS pasar sabtu biar match gtu dh, emg ada?? heheh) tepatnya di atas pulau kapuk, tp gatau kamar no.brapa, maklum waktu itu ane sibuk nangis jd ga sempet nanya ma susternya (lagian klo ane tanya juga yg ada tu suster malah kabur, :P)

Nah, menurut cerita sang mamah, dlu pas mw ngasih nama pda rebutan lho, salahsatunya wa haji ma alm kakek ane dr pihak ma2h, mungkin gra2 anak prtama kli yak.. :D

Setelah melalui perdebatan yang sangat sengit dan mendebarkan (hue…sumpah lebay begete ni anak) akhirnya tercetuslah sebuah nama SITI HANIFAH NURSYAMSIAH..

eiiitttssss….tp trnyata mba2 ato mas2 yg bikin akte klahirannya salah ketik, jdinya nama ane  cm SITI HANI NURSYAMSIAH alias tanpa -FAH.. but gpa2, ttep bagus koq, insyaAllah.. :)

Nah, menurut cerita lg ni ya,,

masa ane punya kebiasaan unik bin ajaib coba, salah satunya slalu nyalamin orang tua yg ktemu di jalan, trus suka senyum2 mulu ma org2, trus klo sblum tdur hrus nguel2 daun telinga ane sndiri,hahah aneh jg ya, ckckck

dan ternyata ane cm minum ASI slama 9 bulan cz wktu bis diminumin air zam-zam bis tu ga mw minum ASI lg, jd smnjak itu ane minum susu kmasan d alias susu si sapi, mkanya kta alm kakek, klo pas kecil ane rada nakal alias bandel itu c gra2 kbanyakan minum susu sapi jd kyak anak sapi dah,hehehe..

waktu umur ane 1,5 tahunan ane smpet tinggal di tasik brapa bulan cz mamah ane lg hamil  ade ane yg namanya Dini, dy beda 2 tahun ma ane, tp stelah mamah melahirkan, ane balik lg ke jakarta..

nah, pda suatu lebaran, sperti biasa ane skeluarga mudik alias pulkam ke tasik, tp pas mw balik lg ke jakarta, ane mendadak ga mau ikut pulang bhkan stelah dibujuk2 ma2h (katanya mpe ma2h nangis, mav ya mah :D) ane ttep ga mau ikut pulang dngan alasan di jakarta panas dan rumahnya ga seluas di tasik (yaiyalah..) dn seinget ane c alasan utamanya gra2 ane bis brantem ma ci godin (nama panggilan kecil Dini) dan klo ga salah juga waktu itu punggung ato jidat ane ya yg di gigit? lupa,hehe.. yg jlas mah ad yg digigit dah ma dy..

Nah, stelah insiden itu (apacoba –’) ane tinggal di tasik deh sama amah (nenek ane) ma kakang (kakek ane, pangilan yg aneh y? hhe) dan pastinya banyak bgt cerita disana.. :)

hm..ane rasa ckup sekian dlu dh, insyAllah akan dilanjut di season slanjutnya..(emg cinta fitri doang yang ada season2an??hihihi)

Wassalam…

Jul
17
PerkenalanSIAPA DIA ?

Petunjuk :

• Minta semua peserta untuk berdiri dan membentuk lingkaran
• Minta seorang peserta untuk memperkenalkan nama dan satu hal lain mengenai dirinya dalam bentuk satu kalimat pendek ( tidak boleh lebih dari 6 kata ), misal: Nama saya Retno, fasilitator P2KP. Nama saya Rachman, Kader Komunitas
• Mintalah peserta kedua untuk mengulang kalimat peserta pertama, baru kemudian memperkenalkan dirinya sendiri, misal : teman saya Retno, fasilitator, saya Mika, guru sekolah
• Peserta ketiga harus mengulang kalimat 2 peserta sebelumnya sebelum memperkenalkan diri, demikian seterusnya sampai seluruh peserta memperoleh gilirannya.
• Apabila peserta tidak dapat mengingat nama dan apa yang dikatakan 2 peserta lainnya, maka ia harus menanyakan langsung pada yang bersangkutan : ‘siapa nama anda?’ atau ‘siapa nama anda dan apa yang anda katakan tadi ?’

more…

Jul
06

Bismillah..

Sebenernya, tulisan ini adalah tugas makalah ane, mata kuliah Ilmu Lughoh ‘Am (Linguistik umum).  Tugas pengganti UAS, pmilihan judulnya diacak/diundi gtu dah pke krtas ma dosennya, nah, kbetulan ane dapet “Ibnu Jinni”, dan yang harus dibahas di makalah itu ya pemikiran Ibnu Jinni/kontribusi beliau dalam ilmu Linguistik Arab dan juga Ilmu Keislaman lainnya. Secara para pemikir Islam jaman dahulu itu ga cuma pinter di satu bidang aja, tapi banyak dari mereka mengetahui atau mendalami ilmu2 lainnya juga lho,, Hebat ya? kereeen.. :D

Gak lupa juga, kita harus membahas biografinya, ya walaupun sedikit, tp setidaknya kita cukup tau basic biografinya. ya ga?? :D

Dalam penyusunan makalah ini bner2 melalui perjuangan yang sangat berat lho, cz bahan-bahan yang ada termasuk yang direferensiin ma dosennya tu berbahasa Arab semua, mana gundul lagi.. :(

yah..mau gmana lg, ane kan cuma lulusan SMA biasa bukan lulusan pesantren kyak temen kelas yang lain, jadi perbendaharaan kata yang ane punya baru sedikitt…..

Well, tp yg ksulitan dlm mentranslate arab-indo bukan ane doang koq, tp tmen2 yang lain juga kesulitan c,heheh.. (bukan seneng lho, tp cm skedar info,hihihi)

Yup yup, stelah berusaha keras bin berjibaku dngan mbah Google transleter + kamus2 yang tebelnya sejibun kyak Munawir ditambah nyari2 data sana sini + browsing juga diinternet….dannn..

Tadaaaaaaa!!! Akhirnya selesai juga! Alhamdulillah…

Dan berikut tulisannya, semoga bermanfaat ya,, ^^

Klo ada kripik, eh kritik kamsudnya, silahkan diisi komennya ya..

Cekidoot…!!! ^_~

BAB I

PENDAHULUAN

Benar apa yang dikatakan Intrelektual Muslim klasik bahwaIslam adalah factor penyemangat utama lahirnya berbagai disiplin ilmu-ilmu Arab Islam. Kesadaran untuk mentaati aturan-aturan (hukum) mendorong para ulama merumuskan fiqh dan kodifikasi Hadits. Kemudian muncullah berbagai kitab fiqh beserta mazhab-mazhabnya.

Perhatian terhadap Al-Qur’an pun telah mendorong mereka untuk merumuskan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan al-qur’an, dimulai dari ilmu bacaannya (al-qira’ah) hingga tafsir-tafsirnya sehingga bermunculan berbagai buku yang terkait dengan kajian al-Qur’an, seperti ilmu Nahwu dan Linguistik.

Tokoh-tokoh atau ulama saat itu dapat dikatakan multi talented, karena tidak hanya satu ilmu yang mereka pelajari tapi banyak pengetahuan yang mereka pelajari. Termasuk tokoh-tokoh linguis Arab pun kebanyakan di antara mereka seperti itu, disamping mengetahui banyak tentang linguistik, mereka juga banyak mengetahui ilmu lain.

Sejumlah linguis Arab telah menaruh perhatian terhadap linguistik sejak gerakan ilmiah dalam kerangka daulat Islam. Mereka memiliki hasil jerih payah dalam bidang fonologi, morfologi, sintaksis, dan kosakata. Orang-orang yang berkecimpung dalam linguistik mengklasifikasikan dua kelompok. Kelompok pertama menaruh perhatian terhadap konstruksi bahasa, sedangkan kelompok kedua menaruh perhatian terhadap kosakata bahasa dan maknanya. Bidang kajian itu oleh kelompok pertama diilustrasikan sebagai nahw (gramatika) atau ilmu bahasa Arab, sementara bidang tersebut diilustrasikan oleh kelompok kedua sebagai bahasa atau linguistik atau filolog.

Salah satu tokoh ilmu Nahwu yang terkenal adalah Ibnu Jinni, yang beliau juga ahli dalam ilmu Linguistik. Pada bab berikutnya, penulis akan mencoba membahas biografi Ibnu jinni dan pemikirannya dalam linguistik.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Biografi Ibnu Jinni

Nama lengkapnya ialah Abu al-Fath Utsman Ibnu Jinni, lahir di Mausil (Mosul), Irak. Tidak ada sumber sejarah yang pasti menginformasikan tahun kelahirannya, tetapi ada yang berspekulasi bahwa ibnu Jinni lahir pada tahun 321 H atau 322 H. Ayahnya (Jinni) adalah seorang berbangsa Romawi, Ia menjadi hamba sahaya (maula) dalam bahasa yunani dikenal dengan Gennaius.[1] dari Sulaiman bin Fahd bin Ahmad al-Azdi al-Mausili, seorang menteri (wazir) dari Syaraf al-Daulah Qarawisy, gubernur Mosul.[2] Oleh karena itu, Ibnu Jinni sering pula menambahkan nama “al-Azdi” di belakang namanya.

Ibnu Jinni menghabiskan masa kanak-kanaknya juga di kota kelahirannya tersebut. Di Mosul juga ia mendapatkan pendidikan dasarnya, belajar ilmu nahwu pada gurunya yang bernama Ahmad bin Muhammad al-Mausili al-Syafi’I yang lebih dikenal dengan sebutan al-Akhfasy. Setelah itu, ia pindah ke Baghdad dan menetap di sana. Di kota ini, ia mendalami lingistik selama kurang lebih empat puluh tahun pada gurunya yang sangat ia hormati dan ia kagumi, Abu ‘Ali al-Farisi.[3] Begitu lamanya Ibnu Jinni menimba pengetahuan bahasa pada Abu ‘Ali, sehingga keduanya terjalin hubungan yang sangat erat seperti hubungan persahabatan.

Selain berguru secara khusus kepada Abu ‘Ali , Ibnu Jinni juga banyak belajar pada tokoh linguistik lain, terutama yang terkait dengan pengambilan sumber bahasa (ruwat al-lugah wa al-adab), di antara mereka ialah Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Miqsam, seorang pakar qira’ah al-Qur’an, Abu Abdillah Muhammad bin al-‘Assaf al-‘Uqaili al-Tamimi, terkadang Ibnu Jinni menyebutnya dengan Abu Abdillah al-Syajari.

Ibnu Jinni hidup pada abad keempat hijriah (abad X M) yang merupakan abad puncak perkembangan dan kematangan ilmu-ilmu keislaman, yang pada umumnya para ilmuawan pada abad ini tidak saja menguasai satu disiplin pengetahuan, tetapi juga menguasai disiplin-disiplin lainnya. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila para penulis biografi Ibnu Jinni menyatakan bahwa karya-karya tokoh yang satu ini menggabungkan teori linguistik, teori prinsip fiqh (ushul fiqh), juga teori Ilmu Kalam karena dia penganut mazhab Mu’tazilah, mazhab yang juga dianut oleh guru besarnya, Abu Ali al-Farisi.[4] Ibnu Jinni menetap di Baghdad hingga wafat pada tahun 392 H tepatnya pada malam jum’at.[5]

Baik ulama sezamannya, maupun generasi para linguis yang muncul kemudian, mengakui penguasaan dan keluasan pengetahuan Ibnu Jinni atas linguistik Arab. Abu Tayyib al-Mutanabbi (w.354 H) , penyair yang sangat terkenal dan sahabat Ibnu Jinni, misalnya, pernah berkomentar tentang Ibnu Jinni, “Dia adalah sosok yang kehebatannya belum diketahui oleh banyak orang”. Bahkan, apabila al-Mutanabbi ditanya tentang makna suatu kata yang ia ucapkan (dalam puisinya), atau tanda harakat (I’rab) yang dianggap aneh, dia selalu menjawab, “Tanyakanlah pada syaikh juling, Ibnu Jinni, dia akan menjawab semuanya”. Demikian pula Thash Kubri Zadah yang dikenal dengan Ahmad bin Mustafa, dalam bukunya Miftah al-Sa’adah, menyebutkan bahwa Ibnu Jinni adalah intelektual yang sangat cerdas, memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam di bidang nahwu dan sharaf. Ibnu Jinni adalah linguis yang prolific dan produktif. Ini dibuktikan dengan berbagai karyanya.[6]

2.2. Karya-karya Ibnu Jinni

Ibnu Jinni meninggalkan karya-karya linguistiknya tak kurang dari lima puluh buku, baik yang berkaitan dengan kajian bahasa langsung maupun yang bersifat komentar atau interpretasi atas karya orang lain, baik karya prosa maupun puisi. Di antaranya ialah sebagai berikut:

1. Al-Khasa’is

2. Al-Tamam

3. Sirr al-Sina’at

4. Al-Munsif

5. Syarhu Mustagliq Abyati al-Hamasah

6. Syarhu al-Maqsud wa al-Mamdud li Ibni al-Sikkit

7. Ta’aqub al-‘Arabiyah

8. Al-Fasr (Tafsir Diwan al-Mutanabbi al-Kabir)

9. Tafsir Ma’ani Diwani al-Mutanabbi al-Sagir

10. Al-Luma’ fi al-‘Arabiyah

11. Al-Tasrif al-Muluki

12. Kitab Mukhtasar al-‘Arud wa al-Qawafi

13. Kitab al-Hamzah al-Mamdudah

14. Kitab al-Muqtadab

15. Tafsir al-Muzakkar wa al-Mu’annas li Abi Ya’qub

16. Kitabu Ta’yidi Tazkirah Abi Ali

17. Al-Mahasin fi al-‘Arabiyah

18. Al-Nawadir al-Mumti’ah

19. Al-Khatiriyyat

20. Al-Muhtasab fi syarhi Syawazi al-Qira’at

21. Tafsir Urjuzati Abi Nawwas

22. Tafsir al-‘Alawiyat

23. Kitab al-Busyra wa al-Zufr

24. Risalah fi Maddi al-Aswat wa Maqaddir al-Muddat

25. Kitab al-Muzakkar wa al-Muannas

26. Kitab Muqaddimati Abwabi al-Tasrif

27. Kitab al-Naqd ‘ala Ibni Waki’ fi Syi’ri al-Mutanabbi wa Takhti’atihi

28. Al-Mu’rib fi Syarhi al-Qawafi

29. Kitab al-Fasl baina al-Kalam al-Khas wa al-Kalam al-‘Am

30. Al-Talqin fi al-Nahwi

31. Kitab al-Ma’ani al-Muharrarah

32. Kitab al-Farq

33. Kitab al-Fa’iq

34. Kitab al-Khatib

35. Kitab al-Ara’iz

36. Kitab zi al-Qaddi

37. Syarh al-Fasih

38. Kitab Syarh al-Kafi fi al-Qawafi

39. Al-Tazkirah al-Asbihaniyah

40. Al-Tahzib

41. Al-Muhazzab

42. Al-Tabsirah

43. Kitab al-Zajr

44. Mas’alatani fi al Aimani li Muhammad ibnu al-Hasan al-Syaibani

45. ‘Ilal al-Tasniyah

46. Al-Masa’il al-Wasitiyyah

47. Kitab Syarhi al-Ibdal li Ya’qub[7]

2.3. Teori, Metode dan Pemikiran Ibnu Jinni

Seperti umumnya para linguis besar dalam tradisi linguistic Arab, semisal Sibawaih, al-Farra’, al-Farisi, al-Zamakhsyari, dan lainnya yang berlatar belakang teologi Mu’tazilah, Ibnu Jinni pun termasuk dari komunitas tersebut. Mu’tazilah adalah komunitas intelektual yang mengedepankan cara berpikir rasional.

Hanya saja, kerasionlan Ibnu Jinni dicurahkan untuk memikirkan obyek-obyek linguistic dan merumuskan teori-teori yang diharapkan bisa diterima oleh semua mazhab. Meskipun Ibnu Jinni penganut Mazhab Bashrah dan berupaya mempertahankan pandangan-pandangannya, dia tidak fanatik, bahkan ia tak segan mengambil teori-teori dari tokoh Mazhab Kufah, seperti al-Kisa’i dan Sa’lab. Bahasa yang digunakan pun cukup santun, tidak melemparkan kritik pedas layaknya persaingan mazhab nahwu. Dia menghargai pendapat yang bersebrangan dengan pendapatnya atau mazhabnya, karena baginya “…fa al-haqqu ahaqqu ‘an yutba’ ayna halla” ‘kebenaran lebih berhak atau lebih layak untuk diikuti di manapun ia berada’

Oleh karena itu, untuk membangun teori linguistiknya, Ibnu Jinni menggunakan metode ilmiah, menjadikan bahasa sebagai objek ilmiah, menggabungkan metode deskriptif dan filsafati (rasional) sebagai piranti analisisnya. Metode deskriptif ia gunakan dalam melihat realitas dan hakekat bahasa. Baginya, bahasa adalah realitas sosial. Oleh karena itu, semua bahasa yang muncul di tengah masyarakat adalah memiliki status yang sama. Ini seperti terlihat dalam definisinya mengenai nahwu yang menurutnya ialah “meniru cara bertutur orang Arab, segi perubahan I’rab-nya dan pola yang lain, seperti meniru pola bentuk dual (tasniyyah), plural (jamak), tahqir (tasgir), jamak taksir (irregular), idafah, penisbatan (al-nasab), struktur kalimat dan lain sebagainya. Ini semua agar orang non-Arab bisa bertutur sefasih orang Arab…”. Di sini, Ibnu Jinni tidak membatasi bahasa orang Arab dari suku tertentu, atau bahasa Arab dari level tertentu yang dapat ditiru.[8]

Adapun metode filsafati ia gunakan untuk menguraikan alasan-alasan, sebab-sebab (al-ta’lilat) yang tersembunyi di balik gejala atau fenomena bahasa. Meskipun demikian, hamper seluruh ta’lil yang dilakukan oleh Ibnu Jinni adalah ta’lil sosial, artinya, semua alasan-alasan yang ia kemukakan dikembalikan pada para penutur bahasa itu sendiri. Penggabungan dua metode Ibnu Jinni ini, dapat terbaca jelas dari uraian, analisis, juga berbagai definisi yang ia rumuskan tentang “al-qaul, al-kalam, al-lugah, al-nahw, al-I’rab, al-bina, asl al-lugah “ dan lain-lain. [9]

a. Perbedaan Kalam dan Qaul

Jauh sebelum Ferdinand de Saussure , bapak linguistic modern Eropa, khususnya aliran structural-deskriptif, menggagas tiga terminologinya yang masyhur : parole, langage, dan langue, di Bagdad, meskipun dalam konteks dan pengertian yang berbeda dari De Saussure, Ibnu Jinni dengan cerdas dan jeli telah memulai bukunya, al-Khasais, dengan membahas perbedaan antara makna “kalam” dan “qaul”.

Ibnu Jinni mempraktekkan teorinya yang ia sebut al-isytiqaq al-akbar, yaitu penyimpulan makna dari suatu kata yang memiliki suku kata yang sama. Tiga suku kata ق و ل (qaf, wawu,lam) bisa dibolak-balik menjadi enam pola yaitu :

ق و ل – ق ل و – و ق ل – و ل ق – ل ق و – ل و ق

Menurutnya, keenam pola tersebut menunjukkan makna yang sama, yaitu “ringan dan cekatan” (al-khufuf wa al-harakah). Ibnu Jinni lebih lanjut memberikan contoh masing-masing dari semua bentuk tersebut.[10] Sedangkan, tiga suku kata ك ل م meskipun diubah dan dibolak-balik pola dan bentuknya seperti

ك ل م – ك م ل – ل ك م – م ك ل –ل م ك

Dari kelima bentuk tersebut, kecuali bentuk yang terakhir, menunjukkan makna yang sama, yaitu “kuat dan keras” (al-quwwah wa al-syiddah).[11]

Setelah selesai mnguraikan makna kata dari derivasi suku kata qaf, wawu, lam, dan kaf, lam dan mim di atas, selanjutnya Ibnu Jinni mendefinisikan “kalam” dan “qaul”.

Kalam ialah setiap ujaran yang berdiri sendiri dan memiliki makna yang oleh kalangan ahli nahwu disebut “jumlah” seperti ujaran, زيد أخوك، قام محمد، ضرب سعيد، فى الدار أبوك، صه، مه dan lain sebagainya.

Adapun qaul, pada dasarnya ialah setiap ujaran yang mudah diucapkan oleh lidah kita, baik yang berdiri sendiri dan bermakna (jumlah mufidah) maupun tidak. Jadi, pengertian kalam lebih umum daripada qaul, setiap kalam adalah qaul, dan tidak sebaliknya. [12]

Kata “qaul”, digunakan dan mengandung makna keyakinan atau pandangan (al-I’tiqadat wa al-‘ara), seperti, “Fulanun yaquulu bi qauli Abi Hanifata, wa yazhabu ilaa qauli Maalik”. Pernyataan tersebut tidak sekedar menyatakan bahwa si Fulan meniru ucapan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik tanpa menambah atau mengurangi, tetapi yang dimaksudkan ialah bahwa si Fulan itu mengikuti (meyakini) pendapat dan gagasan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.[13]

Keyakinan dan ide dilambangkan dan diekspresikan dengan “qaul”, bukan dengan “kalam” karena antara keyakinan dan ide lebih mirip dengan qaul daripada dengan kalam. Kemiripannya ialah karena keyakinan dan ide tidak dapat dipahami atau dimengerti kecuali melalui media yang lain, yaitu lambing bunyi atau ujaran. Ini sama dengan qaul yang terkadang maknanya tidak bisa dimengerti kecuali melalui media lain. Contohya ialah jika seseorang berkata, “qaama” ‘berdiri’, maka kata tersebut belum dapat dipahami karena belum sempurna.

Oleh karena itu, agar kata tersebut dapat dipahami, diperlukan bantuan yang lain, yaitu “fail”, qama Zaidun, misalnya. Jadi, antara qaul yang untuk kesempurnaan maknanya memerlukan bantuan yang lain, ini berarti sama dengan keyakinan dan ide yang agar keduanya bisa dimengerti juga memerlukan bantuan yang lain, yaitu lambang kata.[14]

Adapun “kalam” tidak demikian, ia adalah kalimat yang mandiri, sempurna maknanya, tidak memerlukan bantuan yang lain. Oleh karena itu, kata Ibnu Jinni, bahwa bukti adanya perbedaan antara keduanya ialah telah menjadi kesepakatan bersama menyebut al-Qur’an dengan Kalamullah, bukan Qaulullah.

b. Isytiqaq Kabir

Isytiqaq ada dua macam, shaghir dan kabir. Yang pertama (isytiqaq shaghir) dikaji dalam ilmu sharaf , misalnya isim fa’il atau isim maf’ul yang diambil dari masdarnya seprti قائل dan مقول dari kata قول . Yang kedua (isytiqaq kabir) dikaji dalam fiqh lughah. Menurut Ibnu Jinni, kata-kata dalam bahasa Arab yang berasal dari tiga huruf yang sama meskipun urutan hurufnya berbeda memiliki makna umum yang sama. Misalnya kata-kata berikut ini : جبرجرب- بجر- رب- برجرجب mempunyai makna umum yang sama yakni القوة والشدة (kekuatan dan kekerasan ).[15]

c. Tashaqub al-alfaz litashaqub al-ma’ani

Intinya adalah bahwa kata yang hurufnya berdekatan (tidak sama persis) maka maknanya juga berdekatan, misalnya: هزّ ؛ أزّ yang artinya القلق ؛ الإزعاج yakni mengejutkan dan kegelisahan, قطف ؛ قطع juga mempunya arti yang berdekatan yakni memotong dan memetik.
Maka dalam memahami esensi makna kata perkata dapat dilakukan penelusuran terhadap kata-kata lain yang huruf-hurufnya sama atau berdekatan.[16]

d. Dalalah

Dalalah oleh Ibnu Jinni dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Dalalah lafziyyah, yaitu makna yang ditimbulkan oleh lafal atau suara dari kata tersebut, misalnya ضرب menunjukkan suara pukulan (tentunya untuk kata-kata yang berasal dari peniruan suara, atau intonasi untuk kata yang bukan berasal dari peniruan suara).

2. Dalalah shinaiyyah, yaitu makna yang dipengaruhi oleh bentuk kata atau shigah, dalam bentuk madly menunjukkan adanya perbuatan dan waktu perbuatan tersebut . Perbedaan antara kata صابر dan صبور , yang pertama berarti orang yang sabar, yang kedua berarti orang yang sangat sabar. Perbedaan makna ini disebabkan oleh perbedaan shighah.

3. Dalalah ma’nawiyyah, yaitu makna terjadinya pemukulan oleh pemukul terhadap terpukul, yakni penyampaian gagasan (fikrah) melalui simbol bahasa[17]

e. Al-Lugah ‘bahasa’

Kata لغة mengikuti wazan فعلة berasal dari kata لغوت bermakna ‘saya berbicara’. Akar katanya adalah لغوة seperti كرة dan قلة juga وثبة yang semuanya mengandung huruf lam dan wawu , karena orang Arab mengatakan كروت dan قلوت . Bisa juga kata لغة berasal dari kata لغي – يلغي yang bermakna ‘bicara yang tak berarti’, dimana bentuk masdarnya adalah اللغا atau اللغو . [18]

Adapun definisi bahasa adalah, “aswatun yu’abbiru bihaa kullu qaumin ‘an agraadihim” ‘bunyi yang diekspresikan oleh semua kelompok masyarakat untuk menyatakan maksud mereka’.[19] Aspek bunyi ini yang nampaknya menjadi titik tekan Ibnu Jinni, hal ini diperkuat lagi dalam ulasannya seputar perubahan tanda I’rab yang terjadi pada huruf akhir kata benda dalam sebuah kalimat. Menurutnya, yang menjadi factor pengubah adalah bukan apa yang disebut dalam tradisi nahwu dengan “aamil”, tetapi manusia itu sendiri yang merubah I’rab-I’rab tersebut. Kemudian, dia mencontohkan kalimat ضرب سعيد جعفرا . Kata daraba pada kalimat tadi, sejatinya tidak berpengaruh apa-apa, karena kata daraba ialah kata yang terdiri dari suku kata dad, ra’ dan ba’, mengikuti wazan fa’ala yang hanya merupakan bunyi atau suara, sedangkan suara termasuk sesuatu yang tidak dapat melakukan perbuatan.[20]

Paparan Ibnu Jinni tentang perbedaan kalam dan qaul dari aspek fungsi penggunaannya ialah representasi dari rasionalitasnya yang disukung oleh fakta-fakta, sedangkan definisi bahasa yang melibatkan unsur bunyi, penuturnya, unsure komunikasi dan penegasan perbedaan bahasa setiap suku bangsa adalah mewakili dimensi sosiologis yang mengaitkan bahasa dengan perilaku manusia. Dengan demikian, pengetahuan bahasa pun bersumber dari fakta bahasa, atau hasil deduksi dari fakta atau fenomena bahasa, bukan dari murni akal manusia.[21]

Di sisi lain, pendefiniasian bahasa oleh Ibnu Jinni ini nampaknya menandai perubahan metodologi kajian linguistic Arab. Umumnya, para linguis sebelum Ibnu Jinni atau bahkan mereka yang semasa dengannya, tak satu pun yang membuat definisi bahasa. Indikasinya, hampir semua literature Arab modern ketika mendefinisikan bahasa selalu mengacu pada definisi Ibnu Jinni, baru kemudian mengacu definisi tokoh-tokoh yang muncul setelah Ibnu Jinni, seperti Ibnu Khaldun (1332 M – 1406 M), yang mendefinisikan bahasa sebagai, berbagai peristilahan yang telah digunakan oleh umat (penuturnya) untuk menyatakan maksudnya. Pernyataan ini berupa tindakan verbal, karenanya ia mestilah melekat kuat pada organ yang berfungsi menyatakan, yaitu lisan. Setiap bangsa memiliki bahasa mereka sendiri.[22]

f. Arbitrer sebagai Dasar Pemilihan Huruf dan Penyusunan Kata

Pada umumnya, kata dalam bahasa Arab terdiri dari dari tiga huruf. Komposisi dan pemilihan huruf-huruf tersebut bersifat arbitrer, hal ini seperti diisyaratkan oleh Ibnu Jinni sebagi berikut.[23]

“Ketahuilah, bahwa ketika seorang penggagas atau peletak istilah dalam suatu bahasa hendak melakukan penyusunan sebuah kata, dia akan mengerahkan segenap pikirannya. Dengan inteleknya ia mencermati segi-segi yang universal dan yang particular. Dia sadar harus meninggalkan fonem yang buruk (susah) jika dirangkai seperti kata قج , هع , dan كق , dia juga tahu bahwa kata yang panjang dan membosankan karena memiliki banyak huruf tidak bisa diubah dalam bentuk yang moderat dan paling ringan, yaitu bentuk sulaasi (kata yang terdiri dari tiga huruf). Oleh karena itu, gambaran-gambaran tadi menuntut dia untuk memakai sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Jadi, huruf-huruf pembentuk kata itulah yang mendorong orang menyeleksinya. Kejadian ini seumpama setumpuk harta yang ditaruh di depan pemiliknya, dia ambil sebagian untuk digunakan dan menyimpan sebagian yang lain, dia seleksi mana benda yang bagus dan mana yang jelek , lalu yang jelek dia buang semua. Ini sama dengan mereka yang membuang huruf-huruf yang tak layak untuk disusun atau dirangkai. Kemudian, apa yang telah dia ambil itu ia tunjukkan sisi baiknya, dan dia gunakan sesuai yang diperlukan, dan meninggalkan sebagian karena alasan seperti yang telah saya kemukaka. Dia juga tahu jika seandainya dia ambil apa yang telah dia buang untuk mengganti yang telah disimpan, itu bisa saja demikian dan dapat juga memenuhi keperluannya, misalnya, jika seseorang mau menggunakan kata لَجَع sebagai ganti dari kata نجع toh bisa saja dan sudah memenuhi maksudnya…” [24]

Penjelasan Ibnu Jinni diatas mengilustrasikan konsepsinya mengenai langkah-langkah pembentukan atau penyusunan kata sebagai berikut:

1. Membuang (mensortir) kata-kata yang susah dibunyikan. Pada umumnya, kasus seperti ini ialah kata-kata yang terbentuk dari huruf yang memiliki makhraj (fonem) yang sama, seperti kata هع di mana huruf ha dan ‘ain sama-sama huruf halaq.

2. Menghindari, bukan membuang sama sekali, kata yang memiliki banyak huruf, seperti yang terdiri dari empat huruf al-ruba’i) dan yang terdiri dari lima huruf (al-khumasi).

3. Melakukan seleksi pada kata-kata yang terdiri dari tiga huruf (al-sulatsi), karena jenis kata sulatsi inilah yang paling banyak ditemukan, dan tak mungkin memakai semuanya.

4. Ukuran atau standar penyeleksian bersifat arbitrer, tidak ada ukuran baku, tergantung peletak atau penyusunnya.[25]

g. Qiyas sebagai Metode Penciptaan Bahasa Baru

Menurut Ibnu Jinni, bahasa adalah sebuah system yang pembentukannya mestilah didasarkan atas kepentingan penggunanya, karena bahasa adalah milik masyarakatnya secara kolektif, bukan milik individu tertentu. Oleh karena itu, tak semestinya seorang individu tertentu menciptakan bahasa di luar yang diperlukan atau tidak disepakati masyarakatnya. Sikap seperti inilah yang nampaknya dipraktekkan oleh masyarakat Arab. Pada umumnya, mereka tidak memiliki perbedaan bahasa antara satu suku dengan yang lain. Perbedaan yang terjadi sangat sedikit dan tidak berarti apa-apa disbanding dengan kesamaannya.[26]

Ibnu Jinni menciptakan metode Qiyas yang sebelumnya dibahas juga oleh gurunya Al-Farisi . Qiyas adalah metode penciptaan bahasa baru, Ibnu Jinni membaginya dalam empat criteria: [27]

1. Umum terjadi dalam qiyas dan penggunaannya sekaligus. Kriteria inilah yang seyogyanya terjadi, seperti mengiaskan pada kalimat “qaama Zaidun, darabtu ‘Amran, dan marartu bi Sa’idin”. Maksudnya, mengiaskan bahwa seiap subyek tunggal (fa’il mufrad) ditandai I’rab rafa’, obyek tunggal (maf’ul bihi) ditandai I’rab nasab, dan kata benda yang dimasuki huruf jar ditandai dengan I’rab kasrah.

2. Umum terjadi dalam qiyas, tetapi jarang digunakan seperti bentuk fi’il madi dari kata يذر dan يدع . Artinya, kedua kata tersebut boleh digunakan dengan cara qiyas, tapi jarang digunakan. Juga seperti kata مبقل dalam perkataan orang Arab مكان مبقل ‘daerah yang penuh dengan rerumputan/daerah subur’. Bentuk kata “mubqil” meskipun digunakan oleh masyarakat dan betul menurut qiyas, tetapi masyarakat lebih memlih menggunakan kata باقل (baaqil), makaanun baaqilun, bukan makaanun mubqilun.

3. Banyak digunakan, tetapi menyimpang dari qiyas, seperti kata استصوب dan استحوذ , sedangkan jika mengikuti qiyas bentuk katanya adalah استصاب dan استحاذ tanpa huruf wawu illat.

4. Menyimpang dari qiyas dan sekaligus jarang digunakan, seperti tetap pempertahankan huruf wawu pada isim maf’ul dalam kata yang ‘ain fi’il-nya berupa wawu, seperti kalimat فرس مقوود dan توب مصوون . Kedua, kata tersebut berasal dari kata dasar قاد dan صان yang asalnya قود dan صون . Menurut qiyas yang standar isim maf’ul-nya ialah مقود dan مصون , dengan satu wawu saja.

Ibnu Jinni juga menjelaskan hubungan antara qiyas dan penggunaannya (al-isti’mal).[28]

1. Jika terjadi benturan (pertentangan) antara qiyas dan penggunaan dalam arti “umum digunakan namun menyimpang dari segi qiyas”, maka yang menjadi acuan atau yang didahulukan adalah segi “umum penggunaan”. Hanya saja, kata yang digunakan tersebut tidak boleh dijadikan parameter qiyas, seperti kata استحوذ dan استصوب. Jadi tidak boleh mengiaskan kata استقام dan استساغ misalnya, menjadi استقوم dan استسوغ.

2. Jika tidak umum digunakan, tetapi umum dalam qiyas, maka ikutilah cara orang Arab saja. Namun, lakukan pada kasus lain yang senada atau se-wazan, di antaranya ialah seperti tidak dipakainya kata وذر dan ودع , sebab orang Arab tidak menggunakan kedua kata tersebut, tetapi kita boleh menggunakan kata lain yang senada dengannya, seperti kata وزن dan وعد .

Selain itu, Ibnu Jinni juga menyentuh aspek atau dimensi sosialnya terkait dengan penggunaan bahasa. Aspek-aspek tersebut bisa ditelusuri dalam berbagai pernyataannya dalam al-Khasa’is sebagai berikut:

1. Yang dimaksud dengan “penggunaan bahasa” ialah digunakan oleh komunitas, bukan oleh individu.[29]

2. Ketika menerima bahasa baru, seseorang akan bersikap menerimanya langsun, atau menolak sama sekali. Meskipun menolak, bila bahasa baru itu didengarnya secara berulang kali, akhirnya bahasa tersebut pun akan melekat padanya .[30]

3. Penerimaan terhadap bahasa (kosakata) baru yang maknanya tidak lazim, maka mestilah diketahui dan dicermati segi asal usul atau proses pemaknaan bahasa tersebut. Ibnu Jinni member contoh kata عقيرة (‘aqirah) dalam perkataan orang Arab: رفع عقيرته yang oleh Abu Ishaq dikatakan bermakna suara, ‘dia meninggikan (mengeraskan) suaranya’, dan menurutnya, kata tersebut berasal dari kata عقر . Akan tetapi, Abu Bakar keberatan dengan penjelasan Abu Ishaq tersebut. Menurutnya, jauh sekali kalau kata aqirah itu bermakna suara dan dikaitkan asalnya dari kata aqara. Namun, lanjut Abu Bakar, kalimat “rafa’a ‘aqiratahu” terkait dengan kisah seorang yang dipotong salah satu kakinya, kemudian dia meletakkan potongan kaki tersebut diatas sebelah kakinya yang masih utuh sambil menjerit keras, mendengar jeritan tersebut, orang-orang di sekelilingnya berkata, “rafa’a ‘aqiratahu’, yakni rafa’a rijalahu al-ma’qurah, ia mengangkat kakinya yang terpotong. Jadi, makna asli dari kata ‘aqirah ialah terluka atau terpotong, dari akar kata ‘aqara yang maknanya melukai.[31]

4. Bahasa asing yang masuk ke dalam bahasa Arab dan telah diolah dengan cara qiyas, maka ia termasuk bahasa Arab, “maa qisa ‘alaa kalaa,m al-Arab fa huwa ‘indahum min kalaam al-‘Arab”.[32]

5. Tidak semua bahasa dapat dideduksi atau diinduksi melalui qiyas, tetapi ada yang mesti diterima apa adanya dari masyarakat.[33]


BAB III

PENUTUP

Dari uraian dan ulasan tentang pemikiran Ibnu Jinni di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Ibnu Jinni mencoba membawa wacana dan diskusi-diskusi linguistik Arab dari yang semula terfokus pada perdebatan nahwu dan fanatisme mazhabnya kepada kajian-kajian yang lebih umum dan komprehensif.

Bahasa, dalam pandangan Ibnu jinni, bukan merupakan murni entitas rasional tetapi memiliki dimensi sosial, karena itu, metode, teori dan pendekatan yang dia gunakan pun mestilah menggabungkan keduanya.

Jika teori linguistik Barat Modern memfokuskan obyek kajiannya pada empat unsur penting : Fonetik, sintaksis, morfologi dan semantic, maka sesungguhnya tradisi linguistic Arab, meskipun belum tersistem secara terpadu jauh mendahului kajian mereka seperti yang dilakukan oleh Ibnu Jinni. Bahkan pendekatan sosiologis atau yang lain dapat kita telusuri dan dicari akarnya dari teori-teori Ibnu Jinni dan para linguis generasi setelahnya.

Teori dan metode serta pemikirannya dalam linguistik diantaranya adalah perbedaan kalam dan qaul, isytiqaq kabir, tashaqub al-alfaz litashaqub al-ma’ani , dalalah, tentang definisi al-Lugah ‘bahasa’, teori arbitrer sebagai dasar pemilihan huruf dan penyusunan kata serta teori qiyas sebagai metode penciptaan bahasa baru.

DAFTAR PUSTAKA

· الدكتور رحاب حضرب عكابي. موسوعة عباقرة الاسلام في النحو واللغة والفقه.1993. بيروت

· الدكتور عبد الحليم النجار.تاريخ الادب العربي الجزء الثاني.دارالمعارف

· محمد الطظاوي.نشأة النحو و تاريخ أشهرالنحاة.1969 م

· Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009

· Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Muhammad Ali al-Najjar (editor). Bairut: Alam al-Kutub

· http://luluvikar.wordpress.com/2005/06/27/biografi-singkat-para-tokoh-islam/

· http://sukamta.wordpress.com/2010/06/30/41/

· DR. Syauqi Dhayf, al-Madaris an-Nahwiyyah

Dalam : http://irfanantono.wordpress.com/2009/11/17/nahwu-aliran-baghdad-tokoh-tokoh/


[1] الدكتور رحاب حضرب عكابي. موسوعة عباقرة الاسلام في النحو واللغة والفقه.1993. بيروت. ص 96

[2] الدكتور رحاب حضرب عكابي. موسوعة عباقرة الاسلام في النحو واللغة والفقه.1993. بيروت. ص 96

[3] الدكتور عبد الحليم النجار.تاريخ الادب العربي الجزء الثاني.دارالمعارف.ص 244

[4] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 54

[5] الدكتور رحاب حضرب عكابي. موسوعة عباقرة الاسلام في النحو واللغة والفقه.1993. بيروت. ص 100

[6] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 55

[7] الدكتور رحاب حضرب عكابي. موسوعة عباقرة الاسلام في النحو واللغة والفقه.1993. بيروت. ص 101

[8] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 57

[9] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 58

[10] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.5-12

[11] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.13-17

[12] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.17

[13] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.17

[14] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.20

[18] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.33

[19] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.33

[20] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.109

[21] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 61

[22] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 61

[23] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 67

[24] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.64-65

[25] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 68

[26] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.224

[27] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.97-98

[28] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.97-98

[29] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.25

[30] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.383

[31] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.248

[32] Ibnu Jinni, Abu al-Fath Utsman.1983.Al-Khashais, Hal.114

[33] Abdillah, Zamzam Afandi. Ibnu Jinni Menembus Sekat Mazhab Linguistik.dalam Adabiyyat Vol.8.2009.Hal 72

Jun
12

ehem2..

lg ngrjain tugas, tb2 dnger ni nasyid yg trnyata ada di playlist (gara jd DJ di walimahan k’farhan ni),,haha :D

tulis ah,, cekidot…

Oh Tuhan, seandainya telah Kau catatkan
Dia milikku, tercipta untuk diriku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan

Ya Allah, ku mohon
Apa yang telah Kau takdirkan
Ku harap dia adalah yang terbaik buatku
Kerana Engkau tahu segala isi hatiku
Pelihara daku dari kemurkaanMu

Ya Tuhanku, yang Maha Pemurah
Beri kekuatan jua harapan
Membina diri yang lesu tak bermaya
Semaikan setulus kasih di jiwa

Ku pasrah kepadaMu
Kurniakanlah aku
Pasangan yang beriman
Bisa menemani aku
Supaya ku dan dia
Dapat melayar bahtera
Ke muara cinta yang Engkau redhai

Ya Tuhanku, yang Maha Pengasih
Engkau sahaja pemeliharaku
Dengarkan rintihan hambaMu ini
Jangan Engkau biarkan ku sendiri

Agarku bisa bahagia
Walau tanpa bersamanya
Gantikanlah yang hilang
Tumbuhkan yang telah patah
Ku inginkan bahagia
Di dunia dan akhirat
PadaMu Tuhan ku mohon segala

*tp stelah dibaca, koq kyaknya apabanget dah,, gw blum ckup umur dh kyknya..hehehe

Jun
11

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dikasih amanah malah melarikan diri..
Diajak syuro bilang ada ijin syar’i..
Afwan ane ada agenda syar’i.. Afwan lagi nguleg sambel trasi..
Disuruh ikut aksi, malah pergi naik taksi..
Sambil lambai-lambai, bilang dadaaah…yuk mari…..
Terus dakwah gimana? Diakhiri???

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sekilas gayanya sih haroki berlagak Izzis..
Tapi hati kok Seismic? Sungguh ironis…
Mendayu-dayu kaya’ film romantis..
Kesehariannya malah jadi narsis..
Jauh dari kamera jadi dikira ge eksis..
Hati-hati kalo ditolak, bikin dramatis..

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Dikit-dikit SMS ikhwan dengan alasan dapet gratisan
Rencana awal cuma kasih info kajian
Lama-lama nanya kabar harian.. wah, investigasi beneran!
Bisa-bisa dikira pacaran!
Sampai kepikiran dijadikan pasangan…
Ga’ usah ngaco-ngaco gitu deh kawan!

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Abis nonton film palestina semangat empat lima..
Eh pas disuruh jadi coach, pergi lenyap kemana??
Semangat jadi pendukung luar biasa..
Tapi nggak siap jadi yang pelakunya.. yang diartikan sama dengan nelangsa..
Yah…bikin kecewa…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngumpet-ngumpet berduaan..
Eh, awas lho yang ketiga setan…
Trus, dikit-dikit aleman minta dibeliin jajan..
Emang sih nggak pegangan tangan..
Cuma pandang-pandangan tapi bermesraan..
Wah, kaya’ film india aja gan!
Kalo ketemu Musyrifah atau binaan?
Mau taruh di mana tuh muka yang kemerah-merahan?
Oh malunya sama Musyrifah atau binaan?
Sama Allah? Buang aja ke lautan..
Yang penting mah bisa sayang-sayangan…
Na’udzubillah tenan…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sedekah dikira buang duit. .
Katanya sih biar ngirit, tapi kok shoping tiap menit??
Langsung sengit kalo dibilang pelit…
Mendingan buat dzikir komat-kamit…
Malah keluar kata-kata nyelekit…
Aduh…bikin hati sodaranya sakit…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..
Tapi buat berburu ikhwan yang wah gitu dah ..
Pujaan dapet, terus walimah..
Dakwah pun say goodbye dadaaah..
Dakwah yang dulu benar-benar ditinggalkah?
Dakwah kawin lari.. karena kebelet nikah..
Duh duh… amanah..amanah…
Dakwah.. dakwah..
Kalah sama ikhwan yang wah..

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Buka facebook liatin foto ikhwan..
Dicari yang jenggotan..
Kalo udah dapet trus telpon-telponan..
Tebar pesona akhwat padahal tampang pas-pasan..
“Assalammu’alaykum akhi, salam ukhuwah.. udah kerja? Suka bakwan?”
Disambut baik sama akhi, mulai berpikir untuk dikasih bakwan ..
Ikhwannya meng-iya-kan..
Mau-mau aja dibeliin bakwan..
Asik, ngirit uang kost dan uang makan…
Langsung deh siapin acara buat walimahan!
Prinsipnya yang dulu dikemanakan???

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Ilmu cuma sedikit ajah..
Udah mengatai Ustadzah..
Nyadar diri woi lu tuh cuma kelas bawah..
Baca qur’an tajwid masih salah-salah..
Lho kok udah berani nuduh ustadzah..
Semoga tuh cepet-cepet dikasih hidayah…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Status facebook tiap menit beda..
Isinya tentang curahan hatinya..
Nunjukkin diri kalau lagi sengsara..
Minta komen buat dikuatin biar ga’ nambah nelangsa..
Duh duh.. status kok bikin putus asa..
Dikemanakan materi yang dikasih ustadzah baru saja?

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngeliat akhwat-akhwat yang lain deket banget sama ikhwan, jadi pengen ikutan..
Hidup jadi suram seperti di padang gersang yang penuh godaan..
Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..
Kepala cenat-cenut pusing beneran…
Oh kasihan.. Mendingan jerawatan…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak artis metropolitan..
Makin bingung nyari teladan..
Teladannya bukan lagi idaman..
Hidup jadi kelam tak berbintang bahkan diguyur hujan..
Mau jadi putih nggak kuat untuk bertahan..
Ah biarlah kutumpahkan semua dengan caci makian..
Akhirnya aku ikut-ikutan jadi artis metropolitan..
Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Diajakain dauroh alasannya segunung…
Kalo disuruh shopping tancap gas langsung…
Hatipun tetap cerah walaupun mendung
Maklum banyak ikhwan sliweran yang bikin berdetak cepat nih jantung..
Kalo pas tilawah malah terkatung-katung…
Duh.. bingung…bingung…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Bangga disebut akhwat.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering gosip ngomongin sesamalah…
Wah… wah… ghibah… ghibah…
Eh, malah timbul fitnah…
Segera ber-istighfar lah…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhinya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Nggak punya duit Halaqah males datang..
Nggak ada motor yaa…misi halaqah dibuang…
Musyrifah ikhlas, hati malah senang…
Binaan juga nggak ada satupun yang mau datang..
Jenguk binaan malah pada pergi malang melintang…
Oh…kasiyan… Mau ngapain sekarang???

Oh noo…

Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…
Jadi Akhwat jangan cengeng…

Akhi-Ukhti… banyak sekali sebenarnya masalah Ikhwan-Akhwat. Dimanapun harokahnya…

Akhi-Ukhti… Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini. Maka akan makin banyak Ikhwan-Akhwat lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm. Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah…

Akhi-Ukhti… Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya. Ikhwan-Akhwat lain sebenarnya lebih kecewa dari mu. mereka menahan dua kekecewaan. kecewa karena orang yang mereka percaya dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu. tapi mereka tetap bertahan. menahan dua kekecewaan. karena mereka sadar. kekecewaan adalah hal yang manusiawi. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati.

Ukhti… disaat engkau menjauh dari amanah. dengan berbagai alasan. sebenarnya, banyak ikhwan-akhwat di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu. tapi mereka sadar akan tujuan hidup. mereka memang punya alasan. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah. untuk Allah… demi Allah… mereka… di saat lelah yang sangat. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud. bukan untuk meminta sesuatu. tapi mereka menangis. curhat ke Allah. berharap Allah meringankan amanah mereka. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…

Ukhti… Sungguh dakwah ini jalan yang berat. jalan yang terjal. Rasul berdakwah hingga giginya patah. dilempari batu, dilempari kotoran, diteror ancaman pembunuhan. dakwah ini berat akhi-ukhti… dakwah ini bukan sebatas teori. tapi pengalaman dan pengamalan. tak ada kata-kata ‘Jadilah…!’ maka hal itu akan terjadi. yang ada ‘jadilah!’ lalu kau bergerak untuk menjadikannya. maka hal itu akan terjadi. itulah dakwah. ilmu yang kau jadikan ia menjadi…

Ukhti… jika saudara-saudarimu selalu menangis tiap hari. Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu…? meminjam bahumu…? berkumpul dan berjuang bersama-sama…? Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya. untuk berterima kasih padamu. Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya. “Yaa Allah… Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku, demi tegaknya Perintah dan laranganMu, Kuatkanlah ikatan kami…”

“Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu.”

“Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar.”

“Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”

“Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.”

dari : berbagai sumber

Mei
12

Wahai dirimu yang di sana..

Mungkin menurutmu aku aneh

Mungkin menurutmu aku ajaib

Bahkan dirimu berpikir, koq ada ya orang seperti ku??

Aku, orang yang mengaku cinta tapi cuek

Aku, orang yang mengaku cinta tapi kaku

aku, orang yang mengaku rindu tapi hanya diam

Bila bertemu pun, jarang sekali aku melihat ke arah mu

Bila bertemu pun, sedikit sekali kata-kata yang (mampu) keluar dari lisan ku

Wahai dirimu yang di sana..

Seandainya kau tahu..

Bagiku, ketika seseorang yang kucinta mengetahui hatiku yang mencinta kepadanya

itu adalah suatu aib, bahkan sesuatu yang memalukan

Apalagi jika nantinya ia bukanlah orang yang ditakdirkan Allah untuk bersamaku nantinya

Aku takut..bahwa dirimu bukanlah orang yang sudah tercatat di Lauh Mahfudz yang  akan membersamaiku  nantinya

Tapi..

Wahai dirimu yang di sana..

Seperti yang kau tahu

Aku tahu bahwa kau tahu apa isi hati ini

Walaupun itu hanya sekedar pengakuan melalui kata “ya” atau hanya sekedar anggukan kepala

Bahkan, mungkin dirimu sempat berpikir apakah aku main-main??

Tidak, aku tidak main-main

Apakah aku serius?

ya, aku serius

Pertahananku saat itu runtuh

terdobrak oleh keyakinan..

mengapa keyakinan??

Ya, keyakinan ku yang terlalu besar atas dirimu

keyakinan yang memaksaku untuk mengungkapkan smuanya,

atau lebih tepat menerimamu saat itu

keyakinan bahwa dirimu adalah orang yang ditakdirkan Allah untuk bersamaku nantinya..

keyakinan bahwa dirimu adalah orang yang tercatat di Lauh Mahfudz sebagai imam dalam hidup ku kelak

Keyakinan bahwa dirimu adalah orang yang selalu membersamaiku nantinya..

Tidak logis memang,,

Aku tahu, dirimu juga tahu,

Kita jarang bertemu, bahkan dalam 365 hari hanya satu kali

itu pun hanya dalam hitungan detik

Tapi ketika pertanyaan itu datang, hati ini berkata “ya” disertai kata “yakin” yang semakin nyata

Wallahu a’lam…hanya Dia yang Maha Membolak-balikkan hati kita…

Penantian..

Ya, Penantian, ternyata kita harus menanti..

ternyata kita harus menunggu hari itu,

menunggu dalam waktu yang lama…

Aku tahu, juga dirimu

Kita menunggu karena keadaan yang memaksa untuk menunggu

keadaan diriku yang belum mumpuni untuk menjadi sosok yang lebih dewasa

kondisi diriku yang belum siap menghadapi banyak perubahan nantinya,,

maafkan aku..

“Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti
Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran
Karena terkadang penantian
Membuka pintu-pintu syaithan” _SAF_

kutipan di atas sudah mewakiliku..

Ya, kita setuju, kita sepakat untuk menunggu

dan itu demi kebaikan kita bukan??

Tapi..

Hari-hari penantian itu sulit untuk dilalui

Sempat hati ini berkata “mudah”

tapi nyatanya tetap sulit..

tapi sulit itu bukan berarti tidak bisa kan?? ^^

Diri ini hanya insan biasa

yang hatinya mudah berubah

Hati ini ingin terus terjaga

karena tahu bahwa kita belum halal

karena aku, juga dirimu, tidak tahu

bahwa kita dipersatukan nantinya atau tidak..

Yah,,maka aku terus berusaha..

berusaha menutupi semuanya

berusaha meredam gejolak yang kadang membuncah

Saat kau bilang cinta, aku hanya bisa diam dan tersenyum bingung, sementara hati berkata “mengapa kau mengatakannya? itu hanya membuatku lemah..”

Saat kau bilang rindu, aku hanya bisa diam dan tersenyum bingung, sementara hati berkata “mengapa kau mengatakannya? itu hanya membuatku lemah..”

Padahal..

ingin sekali aku membalasnya dengan ungkapan yang sama

tapi aku selalu meredamnya, aku sadar, aku takut Allah tidak suka….

tapi biarkan hati yang bicara..

Ya, ini semua adalah jawaban..

jawaban dari ke-kaku-an ku

jawaban dari ke-diam-an ku

jawaban dari ke-cuek-an ku

jawaban dari ke-angkuh-an ku slama ini…

Sekarang dirimu tahu

bahwa itulah diriku..

itulah bentuk penjagaanku..

Semoga Allah memberi yang terbaik untuk kita..

Wahai dirimu yang disana..

maafkan jika cara ku salah menurutmu,

tapi aku yakin itu yang terbaik..

smoga kau mengerti..

Barakallahulaka wa lanaa..

*Jakarta, Kamis 12 Mei 2011

jam 02.44 ,,In my room, ditemani lagu2 bang Maher ^^

agak melow memang,, atau bahkan lebay?,,hehehe..

Tapi,, ya namanya juga ungkapan hati, klo ga diungkapin tar malah jadi jerawat.. (lho??!@#$%^) hehe..

but, saya mw mengucapkan terima kasih untuk yang disana, yang telah banyak mengerti, dan banyak bersabar dlm menghadapi saya yang agak masih labil.. ^^

Semuanya akan indah pada waktunya,, believe it! :)